ALLAH berfirman bermaksud: "Syaitan memberikan janji yang membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka. Walhal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipu daya belaka. Tempat mereka itu ialah neraka jahanam dan mereka tidak memperoleh tempat untuk lari daripadanya." ( Surah an-Nisa', ayat 120-121).

Keterbukaan manusia mengundang kehadiran syaitan ke dalam diri masing-masing sebenarnya ada kaitannya dengan sifat mazmumah yang diamalkan dalam kehidupan seharian.

Astaghfirullah ! Syaitan Menguasai Manusia Melalui 10 Pintu
Apabila syaitan beraja dalam diri, seseorang itu akan sanggup melakukan apa juga perbuatan keji dan mungkar kerana keinginan nafsu akan menjadi sebati dengan sifat jahat syaitan itu sendiri.

Hati, suatu organ istimewa kurniaan Allah kepada manusia pada saat itu juga akan mula goyah apabila sedikit demi sedikit syaitan durjana mula merayap untuk menguasai tunjang di dalam badan manusia itu.

Beruntunglah golongan manusia yang berupaya menangkis godaan itu. Mengikut ulama, syaitan akan menguasai tubuh badan manusia melalui 10 pintu:

Pertama, melalui sifat sombong dan angkuh. Ia berpunca daripada keegoan manusia yang lazimnya mudah hanyut ketika dilimpahi kemewahan dan kesenangan.

Kedua, melalui sifat bakhil dan kedekut. Setiap harta benda dan kemewahan yang diperoleh adalah kurniaan Allah yang seharusnya dibelanjakan ke jalan yang hak.

Ketiga, melalui sifat takbur dan bongkak. Allah berfirman bermaksud: " Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang takbur." (Surah an-Nahl, ayat:23)

Keempat, sifat khianat. Khianat yang dimaksudkan bukan saja melalui perbuatan merosakkan sesuatu yang menjadi milik orang lain, malah mengkhianati hidup orang lain dengan tidak mematuhi apa-apa bentuk perjanjian, perkongsian dan sebagainya.

Kelima, sifat tidak suka menerima ilmu dan nasihat.

Keenam, melalui sifat hasad. Rasulullah SAW pernah bersabda bermaksud: " Hindarilah kamu daripada sifat hasad kerana ia akan memakan amalan kamu sebagaimana api memakan kayu yang kering." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Ketujuh, melalui sifat suka meremehkan orang lain. Abu Umamah pernah meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda bermaksud: " Tiga kelompok manusia yang tidak boleh dihina kecuali orang munafik ialah orang tua Muslim, orang yang berilmu dan imam yang adil." (Hadis riwayat Muslim).

Kedelapan, melalui sifat ujub atau bangga diri. Menurut Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: " Jangan kamu bersenang lenang dalam kemewahan kerana sesungguhnya hamba Allah itu bukan orang yang bersenang-senang saja." ( Hadis riwayat Abu Naim daripada Muaz bin Jabal)

Kesembilan, melalui sifat suka berangan-angan. Islam adalah antikemalasan. Orang yang berat tulang untuk berusaha bagi mencapai kecemerlangan dalam hidup akan dipandang hina oleh Allah dan manusia.
Kesepuluh, melalui sifat buruk sangka. Seseorang yang suka menuduh orang lain melakukan sesuatu kejahatan tanpa diselidiki terlebih dulu amat dicela oleh Islam. Rasulullah bersabda bermaksud: "Nanti akan ada seseorang berkata kepada orang ramai bahawa mereka sudah rosak. Sesungguhnya orang yang berkata itulah sebenarnya yang telah rosak dirinya." (Hadis riwayat Muslim)

Jika suatu ketika seseorang atau mungkin kamu ditanya tentang jodohmu maka akan muncul beragam jawaban. Jika belum punya tambatan hati sama sekali biasanya jawabannya ingin jodoh yang serba sempurna contoh : maunya jodoh yang shaleh, tampan, mapan, hafalan Al-quran sekian juz, ibadah hariannya bagus, dari keturunan yang baik-baik yang pada intinya ketika masih kosong hati dan pikiran dari keterikatan hati dengan seseorang pada umumnya akan membuat pilihan target jodoh impian yang serba sempurna.

Tapi jika sudah punya tambatan hati atau mungkin pacar, maka jawabannya beda lagi. Jika ditanya tentang jodohnya jawaban akan mengarah pada ciri-ciri pasangannya (pacarnya). Tak peduli lagi tentang kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh “pacarnya” yang jelas maunya sama si dia.

Jawabannya akan berbeda lagi jika kita tanyakan kepada orang yang pernah gagal dalam pacaran, gagal menuju pernikahan mungkin pacarnya menikah duluan dengan orang lain atau putus. Biasanya kalau yang ini jawabannya agak rada pesimis, “semua laki-laki itu sama saja”, “saya tidak percaya lagi dengan laki-laki”, “saya sakit hati dengan laki-laki”, “untuk saat ini tidak mikirin jodoh dulu”, “Trauma nanti takut gagal lagi”.

Tapi jika usia sudah mulai lanjut, teman-teman sudah punya momongan, keluarga dan saudara sudah mulai bertanya “kapan menikah”, maka jawabannya tentang jodoh menjadi lebih simple. “Yang penting islam, shaleh, taat dan mampu membiayai keluarga”.

Ya, kurang lebih begitulah jawaban umum jika ditanya tentang jodoh ke beberapa orang, masing-masing orang tentu punya persepsi dan defenisi sendiri tentang jodohnya. Ada yang optimis dengan jodohnya, ada yang subjektiv dalam memberikan penilaian , ada yang pesimis dan ada juga yang sangat sederhana dan simple. Semua tentu bergantung pada pengalaman masa lalu, kondisi saat ini dan tentang bagaimana pengetahuannya terhadap jodoh.
Banyak orang yang galau tentang jodohnya, tak sedikit yang khawatir salah pilih atau malah tidak ada yang memilih sehingga memilih jalan maksiat pacaran sebagai ikhtiar untuk mendapatkan jodohnya. Yang pacaranpun jangankan mendapat solusi yang ada malah menambah masalah sehingga memandang pesimis perkara perjodohan. Di lain pihak ada juga yang semakin hari semakin gelisah karena Allah belum pertemukan ia dengan jodohnya sementara usia makin hari makin bertambah.

Kenapa banyak yang gelisah dan galau ketika berbicara jodoh ?, karena kebanyakan diantara kita memaksakan definisi dan persepsi pribadi kita tentang jodoh, mengikuti “ego” yang bahkan sudah bercampur dengan nafsu syahwat dalam menentukan jodoh kita. Jodoh memang misteri, tidak ada yang tau tentang siapa jodoh kita, namun kabar baiknya Allah sudah kasih sedikit bocoran tentang jodoh kita yang mana jika hal ini kita jadikan sebagai acuan tentu akan menjadi solusi utama kegalauan dan kegelisahan kita.

Allah membocorkan Rahasia tentang jodoh didalam surat An-nur Ayat 26 :
“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

Di ayat diatas Allah jelaskan laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik begitu juga sebaliknya. Disini kita mendapatkan sebuah “clue” kalau jodoh itu adalah cerminan diri kita, ia sebagaimana diri kita. Jika kita shaleh, taat, suka membaca Al-quran, baik akhlak dan prilakunya In syaa Allah, Allah akan pertemukan juga dengan orang yang seperti itu.

Setelah mengetahui ini, tentu kita sama-sama memahami, meyakini dan tentu juga mengamalkannya. Diharapkan setelah mengetahui hal ini bisa mengubah persepsi kita dalam memahami jodoh, yang padamulanya mungkin fokus “pada siapa” jodohnya menjadi fokus “bagaimana pribadi saya” agar mendapatkan jodoh sesuai impian dan harapan saya.


SHARE Ya

Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 “Niscaya aku akan melihat beberapa kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan kebaikan laksana gunung-gunung Tihamah [2] yang putih, kemudian Allah Azza wa Jalla menjadikannya debu yang beterbangan”

Ada [3] yang bertanya: “Wahai Rasulullah, jelaskanlah sifat mereka kepada kami, agar kami tidak menjadi bagian dari mereka sementara kami tidak tahu,” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ketahuilah, mereka adalah saudara kalian, satu bangsa, dan bangun malam sebagaimana kalian. Tapi jika mereka menyendiri dengan larangan-larangan Allah, mereka melanggarnya”.

Seseorang mungkin menjauh dari dosa dan maksiat saat berada di hadapan dan dilihat orang lain. Tetapi jika ia menyendiri dan terlepas dari pandangan manusia, ia pun melepaskan tali kekang nafsunya, merangkul dosa dan memeluk kemungkaran.
 “Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya”. [al-Isrâ`/17 : 17].

 “Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kalian kerjakan”. [al-Baqarah /2 : 74].

Bahkan jika ingin berbuat dosa dan ada seorang anak kecil di hadapannya, ia akan meninggalkan dosa itu. Dengan demikian, rasa malunya kepada anak kecil lebih besar daripada rasa malunya kepada Allah. Andai saat itu ia mengingat firman Allah:
 “Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka tampakkan?” [al-Baqarah/2 : 77].

 “Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?” [at-Taubah/9 : 78]

Sungguh celaka wahai saudaraku! Jika keberanian anda berbuat maksiat adalah karena anda meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla tidak melihat, maka alangkah besar kekufuran anda. Dan jika anda mengetahui bahwa Allah mengetahuinya, maka alangkah parah keburukan anda, dan alangkah sedikit rasa malu anda!

 “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah mengetahui mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan”. [an-Nisâ`/4 : 108].

Di antara hal yang sangat “ajaib” adalah anda mengenal Allah, tetapi bermaksiat kepada-Nya. Anda mengetahui kadar kemurkaan-Nya, tetapi justru menjatuhkan diri kepada kemurkaan itu.

Anda mengetahui betapa kejam hukuman-Nya, tetapi anda tidak berusaha menyelamatkan diri. Anda merasakan sakitnya keresahan akibat maksiat, tetapi tidak pergi menghindarinya dan mencari ketenangan dengan mentaati-Nya.

Qatadah berpesan: “Wahai anak Adam, demi Allah, ada saksi-saksi yang tidak diragukan di tubuhmu, maka waspadailah mereka. Takutlah kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun nampak, karena sesungguhnya tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Bagi-Nya, kegelapan adalah cahaya, dan yang tersembunyi sama saja dengan yang nampak. Sehingga, barang siapa yang bisa meninggal dalam keadaan husnuzhan (berbaik sangka) kepada Allah, hendaklah ia melakukannya, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan izin Allah”.

“Kalian sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulit kalian terhadap kalian, tetapi kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangka kalian yang telah kalian sangka terhadap Rabb kalian, prasangka itu telah membinasakan kalian, maka jadilah kalian termasuk orang-orang yang merugi”. [Fushshilat/41 : 22-23].

Ibnul-A’rabi berkata: “Orang yang paling merugi, ialah yang menunjukkan amal-amal shalihnya kepada manusia dan menunjukkan keburukannya kepada Allah yang lebih dekat kepadanya dari urat lehernya” .

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”. [Qâf /50:16].

Saat engkau sedang sendiri jangan katakan aku sendiri, teapi katakan ada yang senantiasa mengawasi diri ini. Dan sedikitpun jangan menyangka bahwa Allah lalai, atau menyangka Dia tak tahu apa yang tersembunyi.

Sungguh takwa kepada Allah dalam keadaan tidak nampak (fil-ghaib) dan takut kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi merupakan tanda kesempurnaan iman. Hal ini menjadi sebab diraihnya ampunan, kunci masuk surga. Dan dengannya, seorang hamba meraih pahala yang agung nan mulia.

“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia”. [Yâsîn/36 : 11].

 “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan tersembunyi akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar”. [al-Mulk/67 : 12].

 “Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah dalam keadaan tersembunyi dan dia datang dengan hati yang bertobat. Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan Kami memiliki tambahannya”.[Qâf/50 : 31-35].

Dan di antara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:
 “Aku memohon rasa takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi maupun nampak”.
Maknanya, hendaklah seorang hamba takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun nampak, serta lahir dan batin, karena kebanyakan orang takut kepada Allah dalam keadaan terlihat saja.

Namun yang penting adalah takut kepada Allah saat tersembunyi dari pandangan manusia, dan Allah telah memuji orang yang takut kepada-Nya dalam kondisi demikian.

Bakr al-Muzani berdoa untuk saudara-saudaranya: “Semoga Allah menjadikan kami dan kalian zuhud terhadap hal yang haram, sebagaiman zuhudnya orang yang bisa melakukan dosa dalam kesendirian, namun ia mengetahui bahwa Allah melihatnya, maka ia tinggalkan dosa itu”.

Sebagian lagi mengatakan: “Orang yang takut bukanlah orang yang menangis dan ‘memeras’ kedua matanya, tetapi ia adalah orang yang meninggalkan hal haram yang ia sukai saat ia mampu melakukannya”.

Jika tersembunyi dan tampak bagi seorang mukmin tiada beda, maka ia telah berhasil di dua dunia dan kita pantas memujinya.

Namun jika yang tampak menyelisihi yang rahasia, tiada kelebihan pada amalnya, selain penat dan lelah saja.

Hal-hal yang menjadikan takut (khasy-yah) kepada Allah Azza wa Jalla : Iman yang kuat terhadap janji Allah l dan ancaman-Nya atas dosa dan maksiat.

Merenungkan kejamnya balasan Allah Subhanahu wa Taala dan hukuman-Nya. Hal ini menjadikan seorang hamba tidak melanggar aturan-Nya, sebagaimana dikatakan al-Hasan al-Bashri: “Wahai anak Adam, kuatkah engkau memerangi Allah? Orang yang bermaksiat berarti telah memerangi-Nya”. Sebagian lagi mengatakan: “Saya heran dengan si lemah yang menentang Sang Kuat”.

Kewaspadaan yang kuat terhadap pengawasan Allah dan mengetahui bahwa Allah mengawasi hati dan amalan para hamba, serta mengetahui mereka di manapun berada. Orang yang sadar bahwa Allah melihat-Nya di manapun berada, mengetahui dirinya secara lahir dan batin, mengetahui yang tersembunyi maupun yang nampak, dan ia mengingat hal itu saat menyendiri, maka ia akan meninggalkan maksiat dalam ketersembunyiannya. Wahb bin al-Ward berkata: “Takutlah kepada Allah sebesar kekuasaan-Nya atas dirimu! Malulah kepada-Nya seukuran kedekatan-Nya kepadamu, dan takutlah kepada-Nya karena Dialah yang paling mudah bisa melihatmu” [10].

Mengingat makna sifat-sifat Allah, antara lain: mendengar, melihat dan mengetahui. Bagaimana anda bermaksiat kepada yang mendengar, melihat dan mengetahui keadaan anda? Jika seorang hamba mengingat hal ini, rasa malunya akan menguat. Ia akan malu jika Allah mendengar atau melihat pada dirinya sesuatu yang Dia benci, atau mendapati sesuatu yang Dia murkai tersembunyi pada hatinya. Dengan demikian, perkataan, gerakan, dan pikirannya akan selalu ditimbang dengan timbangan syariat, dan tidak dibiarkan dikuasai hawa nafsu dan naluri biologis.

Ibnu Rajab berkata: “Takwa kepada Allah dalam ketersembunyaian adalah tanda kesempurnaan iman. Hal ini berpengaruh besar pada pujian untuk pelakunya yang Allah ‘sematkan’ pada hati kaum mukminin”.

Sedang Abu ad-Darda’ menasihati: “Hendaklah setiap orang takut dilaknat oleh hati kaum mukminin, sementara dia tidak merasa. Ia menyendiri dengan maksiat, maka Allah menimpakan kebencian kepadanya di hati orang-orang yang beriman”.

Sulaiman at-Taimi berkata: “Sungguh seseorang melakukan dosa dalam ketersembunyiannya, maka iapun terjatuh ke dalam lubang kehinaan”[13].

Ada juga yang mengatakan: “Sungguh, seorang hamba berbuat dosa yang hanya diketahui dirinya dan Allah saja. Lalu ia mendatangi saudara-saudaranya, dan mereka melihat bekas dosa itu pada dirinya. Ini termasuk tanda yang paling jelas akan keberadaan Rabb yang haq, yang membalas amalan –yang kecil sekalipun- di dunia sebelum akhirat. Tidak ada amalan yang hilang di sisi-Nya, dan tiada berguna tirai dan penutup dari kuasa-Nya. Orang berbahagia adalah orang yang memperbaiki hubungannya dengan Allah. Karena jika demikian, Allah akan memperbaiki hubungannya dengan orang lain. Dan barang siapa yang mengejar pujian manusia dengan mengorbankan murka Allah, maka orang yang awalnya memuji akan berbalik mencelanya”.

Di antara hal paling ajaib mengenai hal ini adalah kisah yang diriwayatkan dari Abu Ja’far as-Saih: “Habib Abu Muhammad adalah seorang saudagar yang meminjamkan uang dengan bunga. Suatu hari, ia melewati sekumpulan anak kecil yang sedang bermain. Merekapun berbisik di antara mereka: ‘Pemakan riba datang,’ Habibpun menundukkan kepalanya dan berkata: ‘Ya Rabb, Engkau telah sebarkan rahasiaku pada anak-anak kecil,’ lalu ia pulang dan mengumpulkan seluruh hartanya. Ia berkata: ‘Ya Rabb, aku laksana tawanan. Sungguh aku telah membeli diriku dari-Mu dengan harta ini, maka bebaskanlah aku’. Esok paginya, ia sedekahkan seluruh harta itu dan mulai menyibukkan diri dengan ibadah. Suatu hari ia melewati kumpulan anak kecil. Ketika melihatnya, mereka berseru di antara mereka: ‘Diamlah! Habib si ahli ibadah datang,’ Habibpun menangis dan berkata: “Ya Rabb, Engkau sekali mencela, sekali memuji, dan semua itu dari-Mu’.”

Sufyan ats-Tsauri berpesan: “Jika engkau takut kepada Allah, Dia akan menjaga dirimu dari manusia. Tetapi jika engkau takut kepada manusia, mereka tidak akan bisa melindungimu dari Allah”.

Ibnu ‘Aun berpisah dengan seseorang, maka ia berwasiat: “Takutlah kepada Allah, karena orang yang takut kepada-Nya tidak akan merasa sendiri”.


Sedangkan Zaid bin Aslam berkata: “Dulu dikatakan: Barang siapa takut kepada Allah, orang akan mencintainya, meskipun mereka (pernah) membencinya”.


Order Buku UAS

3 Amalan Ini Mudah Sekali, Tapi Berat Jika Dilakukan

Lika-liku kehidupan sangat unik dan menarik, kadang menempati posisi di atas, beberapa waktu kemudian di bawah, semua silih berganti.
Yang paling sulit adalah menstabilkan kondisi diri dalam berbuat dan melangkah.


Imam al-Qusyairi dalam Risalah-nya mengutip perkataan Bisyr al-Harits yang menjelaskan bahwa ada tiga amalan ringan tapi berat dilakukan oleh manusia, yaitu:
Pertama, bersikap dermawan diwaktu paceklik, kekurangan harta.

Pada saat seperti ini sangat berat untuk berbagi, untuk dirinya sendiri maupun keluarga saja kekurangan apalagi harus dibagi untuk orang lain.

Kedua, Menjaga diri untuk tidak berbuat hal yang terlarang di saat sendirian. Sungguh hal itu sangat berat sekali dilakukan.

Karena pada dasarnya manusia menjaga harga dirinya disaat berkumpul, bergaul dengan orang lain, dikala sendiri, ia merasa tak ada manusia yang mengawasi, jadi dengan mudahnya ia melakukan hal-hal yang terlarang.

Ketiga, menyampaikan kebenaran kepada orang yang ia takuti. Sungguh sangat berat sekali, dikarenakan nyawa, harga dirinya bisa terancam.

Bahkan nyawanya bisa hilang, terutama mengkritik kepada kebijakan seorang raja yang kejam, ataupun kepada pemimpin sebuah negara yang sangat otoriter.

Ia harus siap dalam menghadapi resiko apapun yang akan menimpanya.
Untuk mewujudkan tiga hal di atas dibutuhkan kearifan dan kebijaksanaan dalam berbuat dan bertindak sehingga tak menimbulkan ketimpangan di masa depan, terutama tak berlebihan dalam menjalankannya.

Karena kadangkala kebaikan yang kita lakukan dianggap salah bahkan tak berarti oleh orang lain.

Maka dari itu, konsisten dalam beramal atau istiqamah dan tak berlebih-lebihan dalam beramal sebagai faktor utama dalam meraih keberhasilan.

Yuk Kita Ucapin “Fii amanillah”, Ini Keutamaannya
Assalamu’alaikum, Sobatku yang baik, gimana kabar kalian hari ini? Semoga sehat ceria, tetep semangat, dan istiqomah selalu ya…

Yuk Kita Ucapin “Fii amanillah”, Ini Keutamaannya

Eh, Sob, kali ini kita mau bicarain soal ucapan buat sodara, keluarga, atau sobat kita yang mau pergi-pergi. Kalo kamu selama ini gimana bilangnya?

“Selamat jalan…” gitu, kan? Iya, kan? Kalo ucapan “fii amanillah” udah pernah denger, belum? Belum? Yah, dasar kurang gaul. hehehe…

Gini, Sob… Ternyata dalam Bahasa Arab ada ucapan yang jauh lebih baik buat mereka yang mau pergi-pergi. Lebih ampuh deh pokoknya. Apa itu? Ya yang tadi itu, yang barusan aku bilang: “fii amanillah”.

Kenapa baiknya ucapan itu yang disampein? Kenapa ucapan itu dibilang lebih ampuh? Yuk kita simak penjelasan gamblangnya…
Ucapan “fii amanillah” kalo dibahasa-indonesiakan jadi: (semoga dirimu) dalam lindungan Allah SWT.

Tuh, coba pikir, bukankah jauh lebih ampuh? Pastinyalah! Ini doa, Sob. Doa biar si dia dilindungi sama Allah dalam perjalanannya.

Artinya jelas banget kalo ucapan gitu jadi bukti dan wujud rasa peduli kita. Iya, kan? Setuju? Sepakat? Ya iyalah! Nah, gitu dong…

Lalu apa itu lindungan Allah buat hamba-hambaNya? Macem-macemlah, Sob. Perlindungan dari kecelakaan, dari sakit, dari copet, dari… banyak deh.

Kan banyak kemungkinan-kemungkinan musibah yang menghadang di jalan. Termasuk, dari bisikan setan ke dia untuk ngelakuin kejahatan.

Nah, jadi dengan kita ucapin “fii amanillah”, berarti kita udah berdoa buat sodara, sobat, atau keluarga kita tadi biar selamat dari musibah-musibah itu. Gitu, Sob… Keren, nggak? Ya pasti keren dan ampuh abislah.

Udah, sekarang kita bakal ngomongin kenapa Islam ngajarin ucapan seampuh itu. Jawabnya, Islam emang nunjukin budaya saling cinta dan sayang ke sesama.

Doa in keselamatan orang yang kita sayang, tentu lebih tinggi nilainya ketimbang cuman bilang: dadah, selamat jalan, sampai jumpa, atawa goodbye.

Dan yang mesti diinget gini, Sob. Ucapan “fii amanillah” ini jangan dianggap cuman  ikut-ikutan biar nampak kearab-araban.

Nggak gitu. Tapi beneran kita ngelakuinnya atas dasar keyakinan kalo  Allah SWT itu Maha Melindungi hamba-hambaNya.

Islam ngajarin kita selalu panjatin doa. Tiap mau lakuin sesuatu, kita ngedoa.

Dan dalam ucapan “fii amanillah”, selain ngarep lindungan Allah SWT buat si dia yang lagi pergi-pergi, kita yang ngucapin pun tentu bakal Allah balasi dengan kebaikan pula, asal kita ikhlash ngelakuinnya.

Dan lebih dari itu, moga aja keselamatan juga Allah SWT kasih buat mereka yang bakal jumpai sama si dia di mana aja.

Iya, karena si dia kan udah dilindungi sama Allah dari bisikan setan. Jadi, apa dan siapa yang dijumpainya pun aman. Tuh, kan, sempurna banget. Ya pastilah, Islam gitu.

Makanya, ayo ucapin, “fii amanillah…”


Wallahu a’lam.

Inggris Kian Islami: Masjid Makin Banyak Sedangkan Gereja Kehilangan Jemaat
Inggris telah memperoleh wajah yang semakin Islami. Ratusan pengadilan Syariah resmi beroperasi di ibukota dan banyak masjid telah menghiasi berbagai kota.

Inggris Kian Islami: Masjid Makin Banyak Sedangkan Gereja Kehilangan Jemaat


“London kini lebih Islami, ibarat banyak negara Muslim disatukan,” kata Maulana Syed Raza Rizvi, seorang pengkhotbah Islam, seperti dikutip di media lokal.

“Teroris tidak akan tahan dengan multikulturalisme London,” ujar Walikota London Sadiq Khan pasca serangan teror mematikan di Westminster tahun 2017 lalu.

Saat ini telah ada 423 masjid baru di London dan sebagian besar masjid ini penuh sesak pada saat-saat jam sholat, tidak seperti banyak gereja yang kini jarang dikunjungi jemaatnya.

The Daily Mail mempublikasikan foto-foto gereja dan masjid yang berjarak hanya beberapa meter satu sama lain di jantung kota London. Gereja San Giorgio yang dirancang untuk mengakomodasi 1.230 jemaat, hanya 12 orang berkumpul untuk merayakan Misa. Di Gereja Santa Maria hanya ada 20 orang.

Sedangkan Masjid Brune Street Estate di dekat gereja justru sebaliknya, yakni overload. Ruangannya yang kecil hanya dapat memuat 100.

Pada tahun 2020, diperkirakan jumlah Muslim yang menghadiri sholat akan mencapai setidaknya 683.000 orang, sementara jumlah umat Kristiani yang menghadiri Misa mingguan akan turun menjadi 679.000.

Sejak 2001, 500 gereja London telah diubah menjadi rumah pribadi. Selama periode yang sama, masjid-masjid Inggris telah berkembang pesat.

Antara 2012 dan 2014, proporsi orang Inggris yang menyebut diri mereka sebagai Anglikan jatuh dari 21% menjadi 17%, mengalami penurunan 1,7 juta orang.

Sedangkan menurut survei yang dilakukan oleh Institut Riset Sosial NatCen, jumlah Muslim di Inggris telah tumbuh oleh hampir satu juta.

Jemaat gereja akan menurun tiga kali lebih rendah dibandingkan  jumlah Muslim yang pergi sholat Jumat.

Kini London juga penuh dengan pengadilan Syariah. Secara resmi ada 100 pengadilan syariah.

Kemunculan sistem peradilan paralel ini dimungkinkan berkat Undang-Undang Arbitrase Inggris dan sistem Resolusi Sengketa Alternatif.


Universitas-universitas Inggris juga diketahui tengah memajukan hukum syariah.
Powered by Blogger.