Kita Ini Malas atau Tak Ada Kesempatan?

Artikel Kita Ini Malas atau Tak Ada Kesempatan? di ambil dari berbagai sumber di internet , dengan tujuan untuk ikut berperan aktif berbagi informasi yang bermanfaat kepada orang banyak , Selamat membaca

Ibu tua yang bantu-bantu di rumah sering merasa bahwa harga minuman yang dipesan layanan antar seharga Rp 55.000 itu tak masuk akal. Pada saat yang sama, saya suka menganggap Elon Musk sedikit gila.

GILA karena bisa punya perusahaan yang mengirimkan satelit ke angkasa. Karena dengan obsesinya, tak lama lagi perjalanan menuju planet lain menjadi hal biasa. Karena ia menjalani hidup yang saya angankan ketika kecil.

Imajinasi tentang petualangan angkasa, setidaknya bagi saya, dibangun melalui bacaan komik fiksi-sains-fantasi. Salah satunya dari komik Storm karya Don Lawrence.

Meskipun komik itu lebih banyak fantasinya ketimbang sainsnya, bagi imajinasi kekanak-kanakan saya, cukup untuk melemparkan angan bahwa di masa depan petualangan semacam itu bakal terjadi.

Imajinasi yang sama bisa dibangun melalui novel War of the Worlds karya H.G. Wells. Atau, jika itu bikin kita ketakutan kepada dunia yang asing, film macam E.T. karya Steven Spielberg bisa jadi bikin kita ingin berkenalan dengan makhluk ekstraterestrial.

Sayang, setelah besar, perlahan tapi pasti, imajinasi itu memudar. Dalam derajat nyaris pasti, dengan sedih saya bisa berkata kepada diri sendiri, sampai tutup usia kelak, khayalan awang-awang itu tak akan tergapai.

Boro-boro bertualang seru di antara bintang-bintang, bertempur melawan makhluk berwajah belalang, atau menemukan planet ajaib, sekadar menginjakkan kaki di tanah Mars pun, tampaknya hanya merupakan impian di siang bolong.

Saya tidak tahu ketika kecil Elon Musk baca komik apa. Yang jelas, meskipun orang seperti dia juga bisa saja tak akan mengalami macam-macam petualangan layaknya di komik, setidaknya ia mewujudkan impian-impian yang tak sanggup dilakukan banyak orang.

Ini sering bikin saya merenung, apakah saya demikian malas sehingga dulu tak mencoba dengan gigih menggapai impian?

Katakanlah seandainya saya bekerja keras, mungkin saya bisa mengumpulkan uang. Dengan uang banyak, saya bisa membangun perusahaan dan mengumpulkan insinyur-insinyur genius. Bersama mereka saya bisa merancang misi 100 tahun mengirim manusia ke Pluto.

Atau, kenapa saya tidak belajar dengan giat? Paham matematika, fisika, dan segala ilmu yang diperlukan sehingga bisa menjadi astronot dan menjadi bagian dari proyek-proyek ambisius penjelajahan ruang angkasa.

Benarkah saya pemalas sehingga tak bisa meraih itu semua? Rasanya kok tidak. Waktu kecil tiap pagi saya rajin menyapu halaman. Rajin mencuci pakaian. Jarang bolos sekolah. Mengaji tiap malam sampai tamat Quran tiga kali. Rasanya saya tidak malas.

Atau, karena semata-mata tak ada kesempatan?

Kalau dipikir-pikir, tentu setelah saya besar dan mencicipi sedikit asam garam kehidupan, saya mengerti sebagian besar dari kita menjalani hidup dengan lebih realistis. Impian mengawang-awang di masa kecil berubah dengan impian-impian sederhana yang sedikit membumi.

Bagaimana tidak, lahir dan tumbuh di desa kecil, bagaimana saya (dan banyak orang) berkesempatan memperoleh pendidikan yang setara dengan orang-orang yang bekerja di pusat-pusat teknologi tinggi?

Jangankan melihat bintang-bintang dengan teleskop canggih, sepanjang sekolah bisa dihitung dengan jari saya bisa memegang mikroskop untuk melihat bentuk jamur di permukaan daun busuk.

Kesempatan untuk mengumpulkan uang? Waktu kecil hanya pernah berjualan es lilin. Keuntungannya tak mungkin untuk bekal mendirikan perusahaan karena lebih sering hanya beberapa potong es untuk dimakan sendiri.

Lagi pula, kalaupun kebetulan lahir dengan isi kepala supergenius (mungkin karena sejenis kelainan genetik yang menguntungkan), apakah negara ini memiliki ruang untuk ambisi-ambisi macam pasang kapsul di permukaan bulan?

Hal ini membuat saya yakin, di luar urusan malas atau tidak malas, ada hal yang lebih mendasar kenapa nasib saya dan miliaran orang di permukaan bumi begitu jauh dengan orang-orang macam Elon Musk, Jeff Bezos, atau Bill Gates.

Nutrisi yang berbeda. Lingkungan yang berbeda. Sistem pendidikan yang berbeda. Jejaring pertemanan yang berbeda. Bahkan, bahasa ibu dan warna kulit yang berbeda juga berpengaruh terhadap kemungkinan seseorang menggapai impian-impian.

Dilihat dari sudut pandang ibu tua yang bantu-bantu di rumah, minuman kopi susu seharga Rp 55.000 itu memang tak masuk akal. Ia miskin. Tak punya pendidikan yang cukup, juga keterampilan.

Meskipun cara kerjanya berantakan dan sering bikin kesal, sebentar-sebentar bilang sakit dan tak datang, bisa jadi masalahnya bukan sekadar malas.

Tapi, jika problemnya adalah apa yang orang-orang pintar sebut sebagai ”problem struktural”, seberapa cepat kita bisa menyelesaikan masalah hidupnya? Satu kekuasaan presiden? Satu milenium? Sialnya, ia tak butuh penjelasan seperti saya butuh pemahaman kenapa nasib saya berbeda dengan Elon Musk.

Yang ia butuhkan sesederhana pinjaman uang hari ini. Sebab, upah kemarin diminta suaminya, dipakai makan anak, menantu, dan cucunya, yang juga tak punya pekerjaan. Dan soal sakit, memang benar ia punya encok yang tak kunjung sembuh. (*)

*) EKA KURNIAWAN, Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016

Terimakasih sudah membaca artikel Kita Ini Malas atau Tak Ada Kesempatan? Sampai selesai , mudah-mudahan bisa memberi manfaat kepada anda , jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman anda semua , sekian terima kasih.