Google Ajak Perempuan Indonesia Bersuara di International Woman’s Day

Artikel Google Ajak Perempuan Indonesia Bersuara di International Woman’s Day di ambil dari berbagai sumber di internet , dengan tujuan untuk ikut berperan aktif berbagi informasi yang bermanfaat kepada orang banyak , Selamat membaca

JawaPos.com – Era digital seperti sekarang ini membuat semua orang termasuk kaum perempuan di seluruh dunia harus bjsa beradaptasi dan mengubah hidup mereka dengan cara yang tidak terduga. Terlepas dari tantangan pandemi, pembatasan politik, dan konflik global, ketahanan para perempuan tidak diragukan lagi sangat luar biasa.

Mereka terus hadir untuk diri mereka sendiri, keluarga dan komunitas mereka. Tapi, kenyataannya adalah negara ini terbilang belum adil bagi perempuan. Menurut World Economic Forum’s Global Gender Gap Report 2021, Indonesia berada di peringkat 101 dalam indeks kesetaraan gender, dimana partisipasi tenaga kerja perempuan, 30 persen di belakang laki-laki dan hampir 83 persen pekerjaan perempuan ada di sektor informal.

Tapi ini bukan masalah pendidikan. World Bank’s 2021 Report tentang gender dan pendidikan di Indonesia menunjukkan bahwa meskipun perempuan memiliki kinerja yang unggul dalam pendidikan, perempuan lebih jarang dipromosikan dan lebih sedikit mencari peluang promosi yang menyebabkan kesenjangan gaji yang besar antara laki-laki dan perempuan.

Para peneliti mengidentifikasi bahwa pola sejarah dan budaya yang mendalam menjadi faktor utama dalam pilihan dan peluang perempuan dalam hidup. Tidak hanya itu, laporan dari Google tentang “Towards Gender Equity Online” yang dilakukan di Indonesia dan enam negara berkembang lainnya menemukan banyak hambatan tumpang tindih yang mencegah perempuan untuk sepenuhnya menikmati manfaat yang diciptakan internet.

Banyak perempuan berjuang untuk menemukan konten yang relevan di internet, Terlebih lagi, lebih sedikitnya figur perempuan inspiratif yang sesuai dengan norma dan budaya lokal atau komunitas perempuan di internet yang memungkinkan mereka dengan bebas mengajukan pertanyaan yang penting namun dianggap sensitif secara sosial seperti: bagaimana menjadi ibu yang baik atau seputar kesehatan reproduksi.

Bahkan di lingkungan fisiknya, perempuan menghadapi pembatasan akses ke internet, karena anggota keluarga yang mungkin bermaksud baik cenderung khawatir tentang paparan yang akan didapatkan anggota keluarga perempuan mereka di dunia yang lebih luas, mengenai keamanan berinternet, dan potensi gangguan dari tanggung jawab yang harus mereka jalankan dan diterima di masyarakat sosial.

Jika dibiarkan, hal ini dapat menimbulkan masalah yang jauh lebih besar bagi negara. Pilar kelima dalam Sustainable Development Goals menjelaskan bahwa ketidaksetaraan gender mengganggu kemampuan Indonesia untuk berkembang, upaya pemberantasan kemiskinan, dan pemerintahan yang efektif.

Dengan demikian, menggalakan kesetaraan gender harus menjadi salah satu perhatian utama dari strategi pembangunan. Mendorong kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan dalam hal partisipasi ekonomi, akses yang sama terhadap pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan politik – dalam rangka membantu bangsa untuk benar-benar mencapai potensinya.

“Perempuan adalah pilar kekuatan bagi keluarga mereka dan masyarakat di sekitar mereka. Tapi perempuan tidak bisa hadir untuk orang lain tanpa hadir untuk diri mereka sendiri terlebih dahulu,” jelas Fida Heyder, Head of Consumer Apps Marketing, Google Indonesia melalui acara daring pada Senin (7/3).

Dia melanjutkan, Google selalu mendukung perempuan Indonesia yang ingin meningkatkan dirinya sendiri. Contohnya, secara internal Google disebut memiliki komunitas Women@ID yang sangatlah aktif dan bagi eksternal kami telah menjalankan kelas digital Women Will selama 5 tahun.

“Di International Women’s Day ini, kami ingin kami ingin mengingatkan dan memberdayakan perempuan Indonesia untuk menunjukkan diri mereka sendiri dengan mencari identitas dan suara mereka, untuk mengungkapkannya melalui inisiatif yang disebut #YukBukaSuara,” lanjut Fida.

#YukBukaSuara adalah sebuah inisiatif untuk menginspirasi lebih banyak perempuan Indonesia, terutama perempuan muda, untuk memahami perbedaan antara stereotip dengan fakta, persepsi dengan kenyataan, suara masyarakat yang mengelilingi dengan pendapat dan suara yang ada di dalam diri sendiri.

Melalui hal ini, Fida menambahkan, Google berkomitmen untuk terus membantu perempuan memulai karir mereka melalui beragam inisiatif. Salah satunya program yang mempersiapkan siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan dan sertifikasi teknologi, seperti Bangkit di mana 30 persen peserta pada tahun 2021 adalah perempuan.

Selain itu, ada juga Women Developer Academy dari Google yang mengajarkan keterampilan profesional teknologi bagi perempuan di Asia Tenggara. Google pun juga membantu perempuan mencapai potensi ekonomi mereka melalui program khusus, WomenWill, yang disebut telah menyatukan 300 ribu pengusaha perempuan untuk saling menginspirasi, berbagi pengetahuan, dan belajar menggunakan alat digital untuk mengembangkan bisnis dari para ahli sejak pertama diluncurkan pada tahun 2018.

Selain itu, Google juga menyebut ingin membangun keragaman, kesetaraan, dan diterapkan ke tempat kerja, produk, dan program adalah pokok dari Google untuk terus lebih bermanfaat bagi semua orang.

Hal ini tercermin pada laporan terbaru di Google 2021 Diversity Annual Report yang menunjukkan bahwa di Asia Pasifik, perekrutan perempuan mencapai lebih dari 36 persen lebih tinggi dari rata-rata global, dan yang lebih luar biasa adalah perempuan di jajaran kepemimpinan terdapat lebih dari 29 persen lebih tinggi dari rata-rata global.

Terimakasih sudah membaca artikel Google Ajak Perempuan Indonesia Bersuara di International Woman’s Day Sampai selesai , mudah-mudahan bisa memberi manfaat kepada anda , jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman anda semua , sekian terima kasih.