Tradisi Udik-udikan, Wujud Syukur dan Kebahagiaan di Lebaran Ketupat

Artikel Tradisi Udik-udikan, Wujud Syukur dan Kebahagiaan di Lebaran Ketupat di ambil dari berbagai sumber di internet , dengan tujuan untuk ikut berperan aktif berbagi informasi yang bermanfaat kepada orang banyak , Selamat membaca

JawaPos.com- Rukiati begitu terampil dengan janur di tangannya. Tak sampai lima menit, cangkang ketupat sudah jadi. Walaupun bisa menghasilkan banyak cangkang baru dalam waktu 30 menit, Tatik –sapaannya– harus memperlambat gerakan tangannya supaya anak-anak bisa mengikuti.

Tepat sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri, perayaan Lebaran Kupat atau Lebaran Ketupat sudah menjadi tradisi turun-temurun di kalangan muslim Jawa. Menu ketupat dan opor disajikan saat kumpul bersama. Bukan hanya dengan saudara, tetapi juga tetangga sekitar.

Kupat punya makna lain, yaitu ngaku lepat atau menyadari kesalahan. Masih erat dengan ucapan mohon maaf lahir batin saat Lebaran. Kebiasaan membuat ketupat saat H+6 Idul Fitri dijaga oleh warga Tubanan Indah.

”Bentuk ketupat itu tidak hanya satu. Ada yang ketupat asli seperti wajik ya, ada yang kita sebut ketupat duduk,” ucap Tatik. ”Janur yang dibutuhkan juga berbeda. Kalau ketupat asli hanya butuh dua janur, ketupat duduk butuh tiga,” sahut Iyas, salah seorang ibu yang turut memandu.

Tatik juga menuturkan bahwa membuat ketupat adalah salah satu bentuk ilmu katon. ”Ilmu katon iku sing iso langsung didelok,” ucap Tatik. Ilmu katon yang dimaksud adalah keahlian yang bisa dilihat langsung hasilnya. Misalnya, kerajinan tangan menyulam, menjahit, hingga membuat ketupat.

”Jadi, hasilnya bukan hanya bentuk ketupat yang bisa disantap. Tapi, juga interaksi antara orang tua dan anak-anak yang memunculkan kembali kearifan lokal. Lewat istilah, bahasa, kebiasaan,” ucap Mustofa Sam, penyelenggara dari Kampoeng Dolanan.

Dia menambahkan, kegiatan pembuatan cangkang ketupat juga melatih anak supaya lebih sabar dan teliti. ”Kalau mereka bosan, kita juga coba bikin kreasi mainan dari janur yang skalanya lebih mudah. Salah satunya, keris dari janur,” imbuhnya saat ditemui kemarin (8/5). Setidaknya, anak-anak mulai mengenal bagaimana ketupat dibuat yang masih jadi tradisi di lingkungannya.

 

Lebaran Ketupat di Gresik

Selain membuat ketupat sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri, di sejumlah desa di Kabupaten Gresik juga masih ada tradisi unik. Namanya udik-udikan. Yakni, melemparkan uang koin atau kertas. Salah satu di antara kampung yang melestarikan kearifan lokal itu adalah Desa Suci, Kecamatan Manyar.

Banyak warga di kampung itu melaksanakan udik-udikan. Di rumah Khoirul Huda, misalnya. Senin (9/5) pagi, setelah doa bersama warga di masjid desa setempat yang semua membawa ketupat, Huda kemudian pulang. Setelah itu, dia membagikan uang dengan cara melempar kepada anak-anak sekitar rumahnya.

Anak-anak sudah mengetahui rumah warga mana saja yang akan melaksanakan udik-udikan. Sebab, biasanya sudah ada pemberitahuan lebih dulu. Anak-anak pun cepat berkumpul, Ada juga beberapa peserta orang dewasa. Mereka pun terlihat antusias dan bergembira untuk berebut uang. Baik koin maupun kertas.

Agar uang dapat cepat terkumpul, ada juga yang membawa sarung. Caranya dibentangkan. Begitu uang disebar, langsung dijemput dengan sarung tersebut. Teriakan dan tawa lepas pun terdengar.

Menurut Huda, tradisi udik-udikan di kampungnya sejauh ini masih dilestarikan. ‘’Sudah turun temurun sejak bertahun-tahun. Ini sebagai wujud rasa syukur. Selain itu, menebarkan kebersamaan dan kebahagiaan. Tentu bukan nilai atau nominal uangnya, melainkan filosofinya itu,’’ kata pria yang juga anggota DPRD Gresik itu.

Terimakasih sudah membaca artikel Tradisi Udik-udikan, Wujud Syukur dan Kebahagiaan di Lebaran Ketupat Sampai selesai , mudah-mudahan bisa memberi manfaat kepada anda , jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman anda semua , sekian terima kasih.