Atasi Pemanasan Global, ASEAN Sepakat Selamatkan 30 Persen Tanah-Laut

Artikel Atasi Pemanasan Global, ASEAN Sepakat Selamatkan 30 Persen Tanah-Laut di ambil dari berbagai sumber di internet , dengan tujuan untuk ikut berperan aktif berbagi informasi yang bermanfaat kepada orang banyak , Selamat membaca

JawaPos.com – Panasnya suhu di bumi saat ini dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global salah satunya diakibatkan oleh manusia yang menyumbang kerusakam alam. Sejumlah negara seperti India dan Pakistan hingga Arab Saudi mencatat rekor hampir menembus 50 derajat Celcius. Virus dari hewan juga semakin mengancam untuk lompat ke manusia. Maka negara di kawasan ASEAN ikut peduli dengan hal ini.

Studi terbaru menyebutkan perlindungan alam di Asia Tenggara dapat menumbuhkan ekonomi sebesar USD 2,19 triliun dan pembukaan lapangan kerja. Laporan ini adalah yang pertama menghitung nilai alam bagi ekonomi ASEAN sebagai seruan bagi kawasan ini untuk mendukung tujuan perlindungan bagi 30 persen tanah dan laut planet ini sebelum tahun 2030.

Suatu studi terbaru yang dilakukan di seluruh wilayah ASEAN dari Academy of Sciences Malaysia mengungkapkan bahwa Asia Tenggara memiliki alam dan keanekaragaman hayati yang potensial jika negara-negara di kawasan ini memprioritaskan konservasi dan restorasi. Laporan ini merupakan laporan terlengkap dari laporan lain sejenis yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan perlindungan alam di kawasan ini saling terkait dan bahwa konservasi bisa menjadi dasar bagi aktivitas ekonomi di kawasan yang menghasilkan kekayaan, lapangan pekerjaan, serta keamanan pangan.

Studi ini yang bertajuk, The Nexus of Biodiversity Conservation and Sustainable Socioeconomic Development in Southeast Asia, memberikan argumentasinya bahwa seiring bertambahnya penduduk, kawasan ASEAN tidak mesti mengikuti arah dari negara-negara kaya G7 yang menghabiskan modal nasional serta membangun ekonomi mereka.

ASEAN harus menciptakan lapangan pekerjaan melalui strategi yang melindungi bukan menghancurkan sumber daya alamnya.

Menurut laporan ini, keanekaragaman hayati yang kaya dan luas di Asia Tenggara, bentangan alam yang utuh, termasuk hutan tropis, hutan bakau, serta ekosistem lainnya, dapat menempatkan kawasan ini menjadi sebuah contoh tentang bagaimana memperoleh dan mengambil nilai dari alam. Sebagai rumah dari tiga negara dari 17 negara dengan keberagaman terbesar (World’s 17 megadiverse nations) dan hotspot keanekaragaman hayati, yaitu Indonesia, Malaysia, dan FIlipina, Asia Tenggara memiliki kesempatan yang unik untuk melakukan riset, teknologi, dan kolaborasi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang berdasarkan alam.

Studi ini menunjukkan studi kasus yang berhasil dilakukan di kawasan ASEAN yang mengungkapkan bagaimana perlindungan alam telah berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi kawasan ini serta memberi nilai tambah bagi masyarakat setempat.

“Asia Tenggara memiliki penduduk yang terus bertambah, serta semakin menekan sumber daya alam yang melimpah di kawasan ini. Laporan ini mengungkapkan bahwa kawasan ASEAN tidak mesti mengikuti jalur pembangunan yang membahayakan alam justru membuat perlindungan alam menjadi landasan bagi keberhasilan strategi ekonomi,” kata Academy of Sciences Malaysia, Helen Nair, kepada wartawan baru-baru ini.

“Melindungi atau melestarikan sekurangnya 30 persen dari tanah dan samudera planet ini di tahun 2030, yang dikenal sebagai 30×30,” tambahnya.

Komite Pengarah Global, Campaign for Nature Zakri Hamid mengatakan hampir 100 negara di dunia sudah bergabung dalam suatu koalisi negara yang mengkampanyekan target global untuk melindungi 30 persen lahan dan samudra dunia planet bumi di tahun 2030. Sejauh ini, Kamboja adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang bergabung dalam koalisi ini, yaitu High Ambition Coalition for Nature and People (HAC).

“Studi terbaru ini merupakan bukti yang kuat yang berlandaskan ekonomi dan ilmiah untuk mengajak semua negara ASEAN dapat bergabung,” kata Zakri.

Contoh Kerusakan Alam di ASEAN:

Filipina

Sebagai rumah bagi elang Filipina yang terancam punah, the Mt. Kitanglad Range Natural Park (MKRNP) di Filipina merupakan juga tanah asal leluhur tiga suku adat: suku Higaonon, Talaandig, dan Bukidnon. Kelompok adat ini berperan aktif dalam Dewan Pengelolaan Kawasan Lindung atau Protected Area Management Board (PAMB) dari taman ini, yang berhasil mengurangi aktivitas ilegal serta pelanggaran serta perluasan ekowisata di taman ini.

Malaysia

Sebuah prakarsa di Tun Mustapha Park (TMP) di Malaysia, yaitu taman laut seluas 898.763 hektar. Taman laut terbesar di negara ini serta area lindung laut multiguna terbesar ini mencoba melestarikan keanekaragaman hayati, melindungi spesies langka, mengembangkan perikanan lokal, serta mengurangi kemiskinan bagi penduduk pesisir yang berpenduduk 85.000 orang. Taman ini menaungi 250 spesies terumbu karang, 400 spesies ikan, serta berbagai spesies yang terancam punah, seperti ikan duyung, berang-berang, paus bungkuk, dan penyu.

Vietnam

Sebuah proyek yang berhasil di di Laos dan Vietnam yang berupaya melindungi 200 ribu hektar hutan di sepanjang deretan pegunungan Annam dari aktivitas ilegal, mendorong pengelolaan sumber daya hutan berkelanjutan, dan melestarikan spesies unik serta keanekaragaman hayati. Proyek ini juga bertujuan untuk mengurangi emisi karbondioksida sebesar 1,8 juta ton dalam waktu lima tahun.

Terimakasih sudah membaca artikel Atasi Pemanasan Global, ASEAN Sepakat Selamatkan 30 Persen Tanah-Laut Sampai selesai , mudah-mudahan bisa memberi manfaat kepada anda , jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman anda semua , sekian terima kasih.