Bara Api Kerusuhan dari Ketenangan Kampung Penghasil Kopi di Jember

Artikel Bara Api Kerusuhan dari Ketenangan Kampung Penghasil Kopi di Jember di ambil dari berbagai sumber di internet , dengan tujuan untuk ikut berperan aktif berbagi informasi yang bermanfaat kepada orang banyak , Selamat membaca

JawaPos.com– Mulyorejo. Salah satu desa dari sembilan desa di Kecamatan Silo. Lokasinya, paling ujung timur Kabupaten Jember, Jawa Timur. Berbatasan dengan Banyuwangi. Berjarak lumayan jauh dari pusat Kota Jember. Melihat dari Google Maps jaraknya sekitar 40 kilometer.

Desa Mulyorejo sehari-hari terasa begitu tenang. Jauh dari bising kendaraan. Tak seperti di kota. Topografi berbukit dan bergunung. Ketinggiannya rata-rata antara 600 hingga 750 meter di atas permukaan laut (mdpl). Berhawa sejuk. Kerap berselimut kabut seolah memeluk desa sekitar. Beberapa aliran sungai melintas. Melengkapi panorama agung itu.

Kekayaan alam seperti Mulyorejo itu langka. Tentu, tidak dimiliki semua desa di Indonesia. Karena itu, sudah sejak lama Mulyorejo menjadi kawasan penghasil kopi. Sejak masa kolonial Belanda. Terbesar di Jember. Terutama jenis robusta. Kopi dengan aroma dan citarasa khas. Berkafein lebih tinggi daripada arabika.

Sebagaimana pernah ditulis Jawa Pos Radar Jember, warga di dusun-dusun Desa Mulyorejo aktif menanam kopi. Dusun Baban Timur dengan luas kebun berkisar 400 hektare, hasil panen lebih kurang 200 ton, harga jual rata-rata Rp 18.000 – Rp 25.000 per kilogram; Dusun Baban Barat luas perkebunan kopi sekitar 500 hektare dengan hasil 250 ton.

Lalu, Dusun Baban Tengah dengan luas kebun kopi mencapai 400 hektare dengan hasil produksi sekitar 120 ton; dan Dusun Batuampar, yang memiliki kebun kopi dengan luas sekitar 212 hektare, hasilnya berkisar 53 ton. Mayoritas warga di sana memiliki lahan perkebunan kopi dengan luasan bervariasi. Mulai dari 0,5 hektare sampai 15 hektare.

Jember memang bukan kabupaten terbesar penghasil kopi diProvinsi  Jatim. Dari data BPS, Kabupaten Malang menjadi yang tertinggi. Jumlah produksi mencapai 8.809 ton. Disusul Banyuwangi, jumlah produksi kopi robusta 4.125 ton pada 2018. Posisi ketiga, Bondowoso, jumlah produksi 4.135 ton. Baru kemudian Jember dengan produksi kopi robusta mencapai 3.120 ton.

Nah, wilayah penyumbang produksi kopi terbesar di Jember adalah Kecamatan Silo. Dan, desa paling besar penghasil kopi di Kecamatan Silo tidak lain adalah Mulyorejo. Desa dengan panorama nan indah dan ketenangan itu.

Namun, kini Mulyorejo tidak lagi tenang, melainkan tengah mencekam. Bahkan, beberapa warganya mungkin takut kembali pulang. Buntut amuk massa sekelompok orang tidak dikenal (OTK). Banyak rumah dan kendaraan milik warga dirusak hingga dibakar. Kerugian miliaran rupiah.

Sejauh ini, polisi belum menangkap atau menetapkan para tersangka dalam amuk massa di Desa Mulyorejo. Kabarnya, ada serangkaian peristiwa menyertai rentetan aksi anarkistis yang diduga melibatkan warga dari Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, itu.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember dari warga di lokasi pada Kamis (4/8), amuk massa yang telah meletus tiga kali ini bermula dari sikap arogan dua kelompok warga dari Desa Mulyorejo ke warga Kalibaru. Dua kelompok itu masing-masing dipimpin oleh T dan S. Konon, mereka kerap menjarah hasil kebun milik warga Kalibaru. Bahkan, secara terang-terangan ketika pemilik sedang berada di kebun.

Hingga suatu ketika, ada seorang warga Kalibaru yang jengah dengan sikap pongah kelompok T dan S itu. Lalu, warga bersangkutan berusaha menasihati seorang anak buah dari salah satu kelompok tersebut. Intinya, meminta agar para preman perkebunan itu tak lagi menjarah hasil kebun mereka. Namun, perkataan itu dipahami sebagai tantangan. Dan, berujung duel bersenjata.

 

Puing-puing kendaraan milik warga yang dibakar massa di Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember. Dok Jawa Pos Radar Jember

Pada perkelahian satu lawan satu itu, anak buah preman kampung itu menang. Korban mengalami luka pada bagian tangan. Sedangkan warga Kalibaru, terluka di beberapa bagian. Salah satunya bagian kepala. Pertikaian berdarah itu lantas memantik kemarahan warga Kalibaru.

Hingga akhirnya, pada 3 Juli 2022, amuk massa meletus. Sekitar 20 orang menyerang rumah pimpinan dua kelompok, T dan S. Tempat tinggal serta sejumlah kendaraan dirusak dan dibakar. Peristiwa itu tak sampai mencuat ke publik. Tidak ada pewarta yang mendengar. Sunyi, sesunyi kampung itu sendiri.

Ternyata, amuk massa tersebut berlanjut. Pada 30 Juli malam, peristiwa serupa kembali terulang. Sekitar 50 orang kembali menyerang ke Desa Mulyorejo. Kali ini, massa menyasar kelompok S. Peristiwa kedua ini juga sama. Tidak sampai mengemuka ke masyarakat luas.

Nah, belakangan publik baru mengetahui jika ada bara api dalam sekam di perkampungan tengah hutan itu. Yakni, saat kejadian kali ketiga meletus, pada Rabu (3/8) kemarin. Sebuah kendaraan milik M. Kholis, tokoh agama Desa Mulyorejo, ganti menjadi sasaran amuk massa.

Jika dua serangan sebelumnya dilakukan terbuka, pembakaran mobil milik ustad itu berlangsung senyap. Terjadi sekitar pukul 01.00 WIB. Suzuki Jimny yang sedang terparkir di garasi rumah, tiba-tiba terbakar. Api begitu cepat berkobar. Entah siapa yang melakukan. Gelap. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk membuat terang.

Peristiwa yang menimpa tokoh agama itu, akhirnya terdengar ke telinga tokoh agama lain di Kecamatan Silo. Kemudian, kabar itu menyebar luas ke publik. Termasuk ke awak media. Tragedi itu pun ramai diberitakan dan menjadi perhatian luas.

Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo, belum menjelaskan secara detil apa yang menjadi penyebab tragedi amuk massa itu. Perwira menengah polisi langsung turun ke lokasi. Aparat gabungan juga bersiaga untuk melakukan pengamanan. Para pelaku masih misterius. Maklum, kejadiannya malam dan berlangsung di banyak tempat.

Sedikitnya, ada tiga titik yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP). “Kami masih melakukan penyelidikan. Kami masih berupaya untuk bisa mengungkap perkara ini,” katanya, Kamis (4/8).

Hery menambahkan, pihaknya sempat kerepotan mendapat keterangan yang bisa membuka tragedi ini secara terang benderang. Sebab, pada awalnya warga enggan melapor ke polisi.

Dia pun berharap, perkara ini bisa segera terungkap dan dapat diketahui akar masalah yang menjadi penyebab. “Untuk korban jiwa sejauh ini tidak ada. Hanya kerugian harta benda,” pungkasnya.

Terimakasih sudah membaca artikel Bara Api Kerusuhan dari Ketenangan Kampung Penghasil Kopi di Jember Sampai selesai , mudah-mudahan bisa memberi manfaat kepada anda , jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman anda semua , sekian terima kasih.