Aipda Gunadi Berhasil Rukunkan Tiga “Anak Mami” yang Kerap Bertengkar

Artikel Aipda Gunadi Berhasil Rukunkan Tiga “Anak Mami” yang Kerap Bertengkar di ambil dari berbagai sumber di internet , dengan tujuan untuk ikut berperan aktif berbagi informasi yang bermanfaat kepada orang banyak , Selamat membaca

Aipda Gunadi butuh belajar empat tahun untuk menguasai kemampuan yang memungkinkannya bicara dengan anjing. Ditanya pakai bahasa Indonesia, jawabnya juga dalam bahasa Indonesia; ditanya dalam bahasa Inggris, jawabnya juga pakai bahasa yang sama.

ILHAM WANCOKO, Jakarta

JawaPos.com – Aipda Gunadi berkomunikasi dengan anjing menggunakan apa yang disebut sebagai linking awareness atau bahasa nonverbal hewan. Sebuah kemampuan berkomunikasi dengan satwa, khususnya anjing.

Kemampuan yang tak banyak orang yang mampu menguasai. Gunadi sendiri butuh waktu empat tahun untuk mempelajarinya. ”Saya belajar dari para senior, Pak AKBP Chaindraprasto Saleh, AKP Ida, dan lainnya,” ujar bintara instruktur K9 Subditlat Ditpol Satwa Korsabhara Baharkam Polri itu.

Namun, baik Chaindra dan maupun Ida enggan untuk berbagi pengalaman terkait linking awareness. Sebab, keduanya merasa ilmu tersebut semacam pisau yang perlu terus diasah untuk bisa dipergunakan.

”Saya tidak lagi mempraktikkan linking,” ujar Chaindra.

Begitu pula dengan AKP Ida yang merasa juniornya, Gunadi, yang kini lebih memiliki kemampuan tersebut.

Gunadi menuturkan, linking awareness dipelajari dari para senior melalui semacam meditasi. Mencoba berkomunikasi menggunakan gelombang Alpha. Ada beberapa gelombang yang bisa digunakan berkomunikasi, dari Theta, Delta, Alpha, Beta, dan Gamma. ”Komunikasi dengan hewan dan tumbuhan itu menggunakan gelombang Alpha,” jelasnya.

Gunadi pun berlatih dengan meditasi dan mencoba menerjemahkan apa yang didapatkan otak dari gelombang Alpha. ”Saya juga tidak percaya awalnya. Tapi, jadi percaya karena membuktikan dengan pengalaman sendiri,” papar Gunadi.

Kemampuan Gunadi itu ternyata membuatnya menjadi tumpuan menyelesaikan problem hubungan antara instruktur dengan K9. Dia mencontohkan, beberapa tahun lalu, ada salah satu K9 yang tidak mau makan.

Si anjing saat itu sudah di rumah sakit satwa. Dan, di sanalah Gunadi yang belum pernah mempraktikkan kemampuan linking awareness-nya dengan satwa selain anjing itu mulai menjalin komunikasi

Anjing tersebut dia terjemahkan ingin bersama instruktur yang sebelumnya. Kebetulan si gukguk tersebut sudah berganti instruktur dua kali.

”Instruktur pertamanya itu sangat klop di hati K9. Baik instrukturnya,” jelas Gunadi yang lupa dengan nama anjing yang dimaksud.

Menurutnya, anjing tersebut menginginkan dipasangkan dengan instruktur pertama. Padahal, instruktur keduanya juga sangat baik.

Tak ubahnya persoalan romansa orang-orang, kalau sudah menyangkut hati, tentu sulit dimengerti. Padahal, dalam kasus ini, si “mantan” alias instruktur pertama anjing tadi tak mungkin lagi jadi pawang. Sebab, yang bersangkutan mengalami kecelakaan cukup parah.

Komunikasi terakhir Gunadi, si K9 sudah tidak ingin kembali ke rumahnya atau kandangnya. Inginnya berada di rumah sakit terus. Bisa bertemu dengan dokter dan perawat.

Dalam penerjemahan Gunadi, anjing tersebut ingin meninggal di rumah sakit satwa itu. Dan, benar saja, tidak lama kemudian gukguk tersebut meninggal di sana.

Dia mengakui, memang sungguh sulit untuk menjelaskan linking awareness itu apa. Tapi, secara pengalaman, kemampuan itu terbukti membawa hasil.

Suatu waktu Gunadi juga pernah dimintai bantuan masyarakat karena anjingnya tidak akur. Ada tiga anjing yang awalnya biasa saja, tapi kemudian selalu berkelahi.

Gunadi menyebut mereka sebagai tiga anak mami. Yang pertama, Bootsy, merupakan anjing jenis Sitzu, lalu Wegle anjing jenis Corgi, dan Cuwie yang merupakan anjing Toys Poodle. ”Bootsy dan Wegle akur. Tapi, begitu muncul Cuwie jadi tidak akur,” urainya.

Gunadi pun mengajak ketiga anjing itu keluar jalan-jalan. Lantas berkomunikasi dengan ketiganya dalam bantin. ”Ternyata dua anjing yang lama itu cemburu karena kasih sayang majikan terbagi,” paparnya.

Tapi, Cuwie sebagai anjing ketiga tidak peduli. Karena itu, Cuwie selalu diajak berkelahi. Gunadi pun berusaha meyakinkan bahwa kasih sayang mami, sang majikan, itu sama.

Tapi, ketiganya teta tidak mau akur. Akhirnya Gunadi menggunakan posisinya sebagai Alpha. Sebagai pemimpin di antara ketiga anjing peliharaan itu.

”Mereka mau karena mereka anggap Alphanya saya,” urainya.

Lantas, bahasa apa yang dipakai Gunadi berkomunikasi dengan para anjing? Ternyata bisa menggunakan bahasa apa saja. “Mau pakai bahasa Indonesia, jawabnya pakai Indonesia. ”Ditanya pakai bahasa Inggris dijawab pakai bahasa Inggris,” jelasnya.

Meski demikian, Gunadi masih khawatir suatu waktu bakal salah dalam menerjemahkan. Karena linking awareness membutuhkan kepekaan tingkat tinggi dan vitalitas tubuh mumpuni. ”Kadang memang bisa salah, tapi kebanyakan tepat,” katanya.

Terimakasih sudah membaca artikel Aipda Gunadi Berhasil Rukunkan Tiga “Anak Mami” yang Kerap Bertengkar Sampai selesai , mudah-mudahan bisa memberi manfaat kepada anda , jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman anda semua , sekian terima kasih.